Serba-Serbi Tanah Suci (02): Semua Mampu Naik Haji


Seseorang pernah ngomong ke saya. Ingin naik haji tapi jangankan untuk biaya naik haji, untuk makan saja kurang. Begitu katanya. Bagaimana solusinya?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Tak masalah, jawab saya. Ibadah haji untuk yang mampu. Begitu firman Allah. Tak hanya mampu secara ekonomi, juga kesehatan, mental, kesempatan dan lainnya. 

Banyak yang sudah bayar, tapi mau berangkat ternyata tak sehat. Menurut berita dari embarkasi Surabaya saja, tahun 2026 ini, ada 10 jamaah yang sudah masuk asrama tak jadi berangkat. Karena kesehatan. Sebagian karena jantung.

Menteri kita Purbaya, yang senyumnya saja bikin nyenyak tidurnya Presiden kita, tahun ini harusnya berangkat naik haji. Tapi entah, mengapa dibatalkan di detik-detik terakhir. Mungkin karena dolar yang naik terus. Berarti tak mampu secara kesempatan.

Toh agama Islam itu untuk semua orang. Bukan hanya untuk kalangan tertentu. Allah sudah menyiapkan alternatif-alternatif lain untuk semua ibadahnya bila tak mampu. Untuk ibadah haji, alternatifnya bisa melakukan sholat Isro'. 

Yakni setelah sholat Subuh berjamah di masjid, jangan pulang dulu. Tunggu dulu sampai matahari terbit. Tunggu sekitar 10 menit, lalu sholatlah 2 rakaat. Pahalanya setara melakukan ibadah Haji dan Umroh. Rasulullah menambahkan kata sempurna sampai 3 kali tentang hal ini. Dan masih banyak ibadah lain yang pahalanya setara haji.

Tapi tentu saja yang kurang cuma pengalaman saja. Merasakan sesaknya thowafnya keliling Kabah, khusyuknya berdoa di bawah rindangnya pohon di Arofah, berjalan kiloan meter untuk melempar jumrah, dan lain sebagainya.

Tapi percayalah, kalau kita sudah niatkan Insya Allah akan diberikan jalan. Kyai Gontor pernah berujar, "Man Jadda Wajada. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil (mendapatkannya)."

Seperti kami. Rasanya tak percaya, bahwa kami bisa melakukan ibadah haji. Bahkan semua anggota keluarga besar kami sudah berangkat ke tanah suci sebelum saya. Ibu (Ayah sudah meninggal) bersama adik bungsu dan suaminya tahun 2005. Lalu adik sulung dan suaminya beberapa tahun kemudian. Terakhir kami, 2022, saya dan istri.

Padahal kalau dihitung dengan kalkulator rasanya tak mungkin. Ayah saya hanyalah sopir bemo punyanya juragan. Yang tiap hari harus setor. Dan kadang bukan dapat uang tapi malah hutang. Karena dapatnya lebih sedikit daripada yang harus disetor ke juragan. Ini bukan saja kerja bakti tapi kerja buntung.. Ihik-ihik.

Tapi keajaiban itu datang. Keajaiban satu demi satu saya alami saat melakukan ibadah haji ini. Bahkan datangnya keajaiban itu sudah saya terima di Asrama Haji. Masya Allah Tabarakallaahu..

- Keajaiban #2

- Keajaiban #1

- Bersiap berangkat ke bandara

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir dan berkomentar.
Statsounter
View My Stats
Total Hits