Pada 1990-an para pemimpin Korea Selatan tertarik dengan film "Jurassic Park". Film sci-fi yang mengangkat kisah menghidupkan kembali biota kuno seperti Dinosaurus, T-rex dll. Mereka ditempatkan di sebuah pulau dan dijadikan tempat wisata. Film ini jadi box office dan memunculkan film-film lanjutan yang juga sama larisnya.
Pemimpin Korea itu tertarik bukan karena suka dan nonton berkali-kali. Tapi tertarik sisi ekonominya. Mereka tercengang bahwa keuntungan film ini setara dengan penjualan 1,5 juta unit mobil Hyundai. Saat itu Korea memacu industri otomotifnya agar bisa menjadi negara maju dan makmur.
Maka pemimpin Korea memutuskan memajukan industri hiburannya dengan membentuk lembaga baru yang dinamakan Korean Film Council (KOFIC). Dengan badan ini mulailah film dan series Korea dikenal. Bahkan menjadi favorit tak hanya warga Korea, bahkan belahan negara lain termasuk Indonesia.
Tak hanya itu, musiknya juga ikutan maju. Boys & girls band seperti Blackpink, SNSD, BTS dll juga ikutan ngetop. Padahal mereka menggunakan bahasa Korea. Yang lain ikutan laris: kosmetik, fashion, makanan, dll. Pokoknya yang serba Korea jadi ikutan laris. Termasuk wisata kunjungan ke sana.
Inilah yang dinamakan sebagai amanah. Para pemimpin Korea memikirkan bagaimana menjadikan negaranya maju dan rakyatnya makmur. Mereka selalu berpikir apa yang bisa dilakukan agar tujuan itu tercapai. Amanah itu adalah bagian dari akhlak.
Maka alangkah bagusnya kalau seseorang berakhlak baik sesuai perannya. Seperti pemimpin yang berpikir untuk rakyatnya. Pedagang berakhlak dengan timbangan yang benar. Pengusaha berakhlak dengan memberikan gaji tepat waktu dan layak dan lainnya.
Wah itu berat! Betul. Karena itu akhlak adalah ibadah yang berat dilakukan. Tapi konsekuensinya timbangan pahalanya juga paling berat. Ibadah ini tak hanya untuk Allah tapi langsung dilihat, dirasakan manfaatnya bagi manusia lain. Minimal ada 5 alasan kenapa hal itu terjadi.
Mari kita simak penjelasan Ustadz KH Ali Mansyur Kastam, pengasuh Pondok Pesantren Raudhotul Ilmiah, Kertosono, Jawa Timur di sini. Sebuah Pondok Pesantren yang termasuk tua di Jawa Timur. Lebih dikenal dengan nama pondok YTP dulu. Beliau guru kajian tafsir Al Qur'an yang mumpuni. Kajiannya sungguh runtut dengan ilmu yang sangat dalam.



Posting Komentar