Jadi teringat nasehat seorang Ustadz. Untuk memberikan warisan akhlak dengan pendidikan/ilmu agama (para seteru itu pendidikannya bagus jebolah universitas keren di luar nageri bahkan sempat jadi konsultan).
Oleh: Mochamad Yusuf*
Saya ikuti kasus Pakerin, sebuah pabrik kertas di Mojokerto. Cukup familar bagi saya karena pernah jadi klien kami.
Sekarang jadi mencuat karena mau memPHK seluruh karyawannya sekitar 2.500 orang. Itu karyawannya saja. Berarti ada ribuan jiwa lagi yang terdampak. Keluarga karyawan, pemasok, pemilik kost, pemilik warung dll.
Sebenarnya perusahaan ini sehat. Ini gara-gara, mungkin tepat peribahasa, "gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah."
Yakni perseteruan keluarga karena rebutan warisan. Sehingga uang operasional perusahaan tak bisa dicairkan karena ada di bank milik salah satu keluarga.
Tambah runyam bank diturunkan status ke BPR, lalu dipegang oleh LPS. Uangnya tambah macet termasuk gaji dan tabungan para karyawan.
Jadi teringat nasehat seorang Ustadz. Untuk memberikan warisan akhlak dengan pendidikan/ilmu agama (para seteru itu pendidikannya bagus jebolah universitas keren di luar nageri bahkan sempat jadi konsultan).
Dan, kata Ustadz tadi, lebih baik harta yang diperoleh untuk akhiratnya, seperti wakaf, beasiswa, sembako dll daripada memberi warisan yang banyak PADA anaknya. Tak berarti tak diberi warisan, tapi secukupnya.
Bahkan sang Ustadz bertanya, "Dulu bapak ibu saat menikah apa sudah punya rumah? Toh sekarang punya rumah kan?"
Saya kira klien kami itu, pendiri yang sudah meninggal beberapa tahun lalu, pasti menangis kalau tahu hal ini. Perusahaan yang dibangun susah payah, hancur dalam sekejap. Plus anak-anaknya bertengkar di pengadilan.

%20-%20koin%20penambah%20semangat.jpg)

Posting Komentar