Kebimbangan atau pertanyaan saya mulai mendapat jawabannya. Memang agak kontradiktif. Masyarakat Indonesia semakin bersemangat menjalankan ibadahnya, namun kok tingkat korupsi kita makin payah ya?
Kebimbangan saya (ada yang mengatakan otokritik) dalam artikel "Shalat Yes, Korupsi Yes", ternyata ada ulama yang menjawab. Memang bukan bermaksud menjawab pertanyaan saya. Jawaban ini sebenarnya untuk pertanyaan yang diajukan oleh seorang pembaca Jawa Pos dalam rubrik 'Interaktif Ramadhan', yang dimuat di Jawa Pos, 24 September 2008.
He.. he.. ternyata yang bimbang bukan saya saja ya..
Memang masih belum menjawab kebimbangan saya secara kesluruhan. Namun sedikit banyak sudah menciptakan kecerahan bagi saya. Bagaimana menurut Anda?
~~~
Manfaat Lailatul Qadar
Maaf Prof ya, mungkin pertanyaan ini terdengar "kurang ajar". Tapi bagi saya lebih baik mengungkapkan apa pun yang jadi uneg-uneg dalam hati dan akhirnya lega, daripada memendam rasa tapi terus penasaran.
Jujur selama ini saya bertanya-tanya dalam hati, apa manfaat nyata dari Lailatul Qadar yang dihebohkan tiap Ramadan itu, sementara nasib umat Islam di seluruh dunia ya gini-gini aja. Sedang bangsa Barat, Jepang, Korea, Singapura dan lain-lain yang tidak mencari bahkan mungkin sinis terhadap Lailatul Qadar, hidup mereka lebih baik.
Maaf kalau kurang sopan. Terima kasih.
Abdurrahman Hakim, di Surabaya
~~~
Jawaban
Memahami masalah berkah Lailatul Qadar tidak bisa dengan orientasi aksiologis-hedonistik (asas manfaat dan enaknya duniawi), seperti pemahaman WH (aktivis perempuan) tentang salat yang disiarkan salah satu stasiun TV Swasta, bahwa salat itu hanyalah ibadah konvensional yang tidak berpengaruh apa-apa dalam mengatasi kemiskinan, karenanya dia sudah lama tidak melakukannya (kendati tetap mengaku sebagai muslimah, dan merasa punya cara tersendiri untuk berkomunikasi dengan Tuhan).
Berkah Lailatul Qadar adalah persoalan metafisik-spiritual yang hanya dapat direspons dengan iman-Islam (percaya dan tunduk) lantaran Nabi SAW menyatakan adanya Lailatul Qadar dan menegaskan adanya berkah besar di dalamnya. Sehingga tanpa berpikir manfaat duniawi, sebagai muslim mestinya berpacu mendapatkan berkahnya.
Sebenarnya ada hadis shahih yang maknanya "Siapa-pun yang menghidupkan Lailatul Qadar atas dasar iman dan hanya mengharap ridla Allah, maka diampunilah dosanya yang telah lalu" (HR. al-Bukhariy, Abu Dawud, at-Tirmidziy dan an-Nasa'iy).
Namun janji demikian tentu kurang menarik bagi kaum hedonis (penikmat duniawi) karena tidak adanya rasa enak yang nyata saat ini. Tapi tidak mungkin berkah besarnya Lailatul Qadar itu "hanya" berdimensi ukhrawi, tanpa ada atsar duniawi (manfaat keduniaan) walaupun tak harus berwujud limpahan materi.
Siapa pun yang mendapat berkah Lailatul Qadar pastilah ada nilai tambah dalam kehidupannya, seperti makin tenang dalam hidup, makin tekun beribadah baik ritual maupun sosial, dan makin berkah rezeki yang diterimanya (berkah tidak mesti banyak, tapi serba cukup dan tenang di hati).
Sebab orang yang mendapat berkah Lailatul Qadar pastilah orang yang bertaqwa, sedang orang yang bertaqwa itu mendapat jaminan dari Allah SWT untuk diberikan solusi semua masalahnya, diberi rezeki dengan cara tak terduga, dimudahkan segala urusannya, dihapus segala kesalahannya dan bahkan diberi pahala berlipat-ganda (surat ath-Thalaq 2-5).
Adakah kenikmatan dan karunia lebih besar dan lebih baik dari itu? Wallaahu a'lam. (*)
Oleh: Prof Dr H Ahmad Zahro MA, Direktur Imarah-Ijtima'iyah MAS [TSA, 07/11/2008]



Posting Komentar