Ya Allah, kita ada di kotanya Nabi. Madinah. Kita memang masuk gelombang pertama, sehingga ke Madinah dulu. Setiba di landasan, saya cium tanahnya. Terima kasih Ya Allah! Engkau berikan kesempatan menjejakkan ke tanah sucimu.
08/06/2022 - DAY #3
Rabu, 8/8/2022, dini hari kita dibangunkan oleh pramugari. Ternyata waktunya sarapan. Saya lihat monitor depan saya, posisi pesawat sudah masuk ke semenanjung Arab. Tinggal 1-2 jam lagi akan mendarat.
Rasanya tidur paling nyenyak dalam hidup saya. Enak. Tadi malam kita bahagia. Betapa tidak? Setelah menunggu berahun-tahun, terus tertunda 2 tahun, akhirnya berangkat juga. Naik haji.
Kebahagiaan itu terlihat saat teman-teman santai saja jalan ke sana kemari, meski di dalam pesawat. Apalagi para pramugari gak marah digodain oleh teman-teman. Ya, mungkin mereka gak paham Bahasa kita. Malam itu bercanda ria, ngobrol. kesana-kemari.
Jadinya setelah bercanda-ria, ngobrol dan meluapkan kegembiraan malam itu, setelah tidur langsung lelap. Nyenyak banget. Kalau gak dibangunkan pramugari, pasti tidurnya bisa lebih panjang, Hehehe.
Benar, setelah sarapan pesawat kita mendarat.
Saya tak langsung turun, tapi berfoto dulu dengan para pramugari. Lalu turunlah kita menurui tangga pesawat yang besar ini. Boeing 747.
Ya Allah, kita ada di kotanya Nabi. Madinah. Kita memang masuk gelombang pertama, sehingga ke Madinah dulu. Setiba di landasan, saya cium tanahnya. Terima kasih Ya Allah! Engkau berikan kesempatan menjejakkan ke tanah sucimu.
Depan pesawat sudah menunggu bus bandara. Karena saya tadi turun belakangan, saya dapat bus terakhir. Dan demikian juga saat antri di imigrasi nanti.
Petugas imigrasi seorang cewek. Cantik dan putih. Alisnya tebal. Saya ajak berkomunikasi. Dia tersenyum. Bahagia saya masih terasa sehingga saya pancarkan kemana-mana, seperti menyapa ini. Hehehe.
Selesai urusan imigrasi keluar bandara. Lagi saya dapat bus paling akhir menuju hotel.
Teman-teman menyalakan HP. Bahkan sudah mulai berkomunikasi. Mungkin mengabarkan keluarga di tanah air bahwa sudah sampai di tanah suci.
Lha di sinilah peristiwa yang mungkin jadi penyesalan saya. Satu-satunya penyesalan dalam perjalanan haji ini.
Apa itu? Saat saya nyalakan HP, ternyata koneksi internet belum nyambung. Kok aneh? Padahal sudah beli dan aktifkan saat di Asrama Sukolilo Surabaya. Saya otak-atik, tetap gak bisa.
Selama panik membetulkan HP, saya lihat istri, di samping saya, memvideokan perjalanan dari bandara ke hotel ini. Saya sekali-sekali melihat pemandangan luar. Tapi perhatian saya masih terfokus dengan permasalahan HP yang belum koneksi.
Saya minta bantuan seorang teman. Dia otak-atik HP saya. Tetap gak jalan. Saya cukup panik, karena merasa teman-teman di grup saya pasti akan menghubungi saya untuk menanyakan kamarnya. Sebagai ketua regu, saya ingin membantu kelancaran khususnya teman-teman se-grup.
Tiba-tiba bus berhenti. Lho sudah sampai? Saking fokus ingin HP bisa terkoneksi internet, sampai saya tak fokus melihat sekeliling. Ternyata sudah sampai hotel.
Bus berhenti di seberang hotel. Bus tak berhenti depan hotel. Sepertinya antri dengan bus-bus sebelumnya. Jadinya kita lihat hotel dari kejauhan.
Akhirnya kita turun. Masuk ke lobby, di pojok terlihat tumpukan koper seperti sebuah bukit. Hehehe. Beberapa teman pengurus yakni Karom dan Karu ada di lobby. Tapi teman-teman lain sudah naik ke atas.
Saya diminta naik ke atas. Sampai lantai jatah kamar kita, seorang teman memberitahu tentang kamar saya. Saya masuk ke kamar. Teman-teman sudah booking kasurnya masing-masing. Tinggal tersisa 1. Itu untuk saya. Nasib sebagai datang belakangan. Gak bisa milih. Ihik-ihik.
Teman-teman bertanya kok gak bisa dihubungi? Saya jawab, HP saya tak bisa koneksi internet. Teman-teman minta HP saya untuk diotak-atik. Saya serahkan. Setelah saya serahkan, saya keluar kamar. Ternyata ada beberapa teman yang belum dapat kamar.
Akhirnya Karom (ketua rombongan) meminta semua teman keluar dari kamar masing-masing. Lalu setelah itu diatur lagi. Baru setelah itu semuanya dapat kamar. Alhamdulillah. Masalah kamar sudah beres.
Saya kembali ke kamar. Dan HP saya sudah bisa koneksi internet. Ternyata obatnya cuma direstart saja. Ya Allah.. Kenapa tadi tak kepikiran untuk melakukannya?
Namun gara-gara ini saya tak bisa menikmati pemandangan antara bandara ke hotel. Ini salah satu penyesalan saya. Kenapa saya kok jadi panik? Biar saja! Nikmati saja pemandangan. Kesepatan itu hanya sekali, tapi saya melalaikan. Fokus dengan HP. Ihik-ihik.







Posting Komentar