Panggilan Tanah Suci (12): Di Pesawat Jumbo Double Deck

Kami sederet dengan ketua rombongan 

Bagi saya yang hanya melanglang domestik dan regional, hanya bertemu pramugari orang Indonesia. Atau paling jauh ke ASEAN saat naik Air Asia ke Malaysia. Jadi asyik saja melihat pramugari yang rambutnya pirang dan bermata tidak hitam. Berhidung mancung, tinggi dan putih. 

07/06/2022 - DAY #2

Untuk urusan transportasi pesawat, bagi saya, sangat bersyukur. Ada beberapa hal bagi saya pribadi adalah sesuatu pengalaman unik dan mungkin langka. Sehingga saya syukuri.

Pertama, saya penasaran dengan pesawat Jumbo Jet Boeing 747. Sepulang Ibu pulang dari haji, beliau bercerita tentang pesawat besar yang sampai ada lotengnya (double deck). 

Maksudnya ada 2 lantai. Lantai 1 yang sebagian besar penumpang, dan lantai 2 untuk sedikit penumpang. Untuk normalnya biasanya lantai 2 untuk penumpang eksekutif dan bisnis. Sedang lantai 1 untuk penumpang ekonomi.

Di dunia hanya ada 2 jenis pesawat yang punya 2 lantai. Pertama dari Boeing, Boeing 747. Ini lama pembuatannya. Sekarang sebagian besar sudah pensiun. Yang masih beroperasi kebanyakan dibuat pesawat Cargo. 

Saya dan istri di deret tengah

Yang kedua, lebih baru, adalah Airbus A380. Ini masih beroperasi. Tapi sayangnya hanya beberapa bandara yang bisa melayani pesawat ini. Karena saking besarnya butuh bandara yang runway-nya sangat panjang. Di Indonesia hanya bandara Ngurah Rai, Denpasar, yang ada jadwalnya pesawat ini.

Meski saya seringkali naik pesawat, tapi tak pernah naik pesawat yang 2 lantai ini. Ya karena pesawat Jumbo ini biasanya hanya untuk penerbangan internasional jarak jauh. Saya yang ke Malaysia saja tak naik pesawat Jumbo. Maka saya bersyukur dapat naik pesawat Jumbo ini. 

Jadi kapan lagi bisa menikmati pesawat Jumbo kalau tak naik haji? Hehehe. Untuk jamaah haji yang embarkasi lain yang dilayani Garuda tak menggunakan pesawat 747. Jadi tak merasakan pesawat Jumbo ini. 


Tambah bersyukur, karena tahu 2 tahun kemudian pesawat ini dipensiunkan oleh Saudia. Jadi jamaah haji tahun itu dan selanjutnya tak diangkut pesawat Jumbo ini.

Di depan kami ada display multimedia

Kedua, dilayani operator penerbangan Saudia Airlines. Saat tahun saya berangkat naik haji, hanya ada 2 operator yang melayani. Yakni Garuda Indonesia dan Saudia Airlines. Untuk embarkasi Surabaya dilayani Saudia ini.

Maka tentu saja air crew juga pegawai Saudia. Di mana air crew-nya dari negara Saudia atau internasional. Sedangkan Garuda kan kebanyakan pramugarinya lokal. Orang Indonesia.

Bagi saya yang hanya melanglang domestik dan regional, hanya bertemu pramugari orang Indonesia. Atau paling jauh ke ASEAN saat naik Air Asia ke Malaysia. Jadi asyik saja melihat pramugari yang rambutnya pirang dan bermata tidak hitam. Berhidung mancung, tinggi dan putih. 

Sepertinya bukan saya saja yang heboh dengan keadaan keadaan pramugari ini. Apalagi ternyata mereka sedikit yang paham bahasa Indonesia. Tapi mereka tentu bisa bahasa Inggris. Sedangkan teman-teman sedikit mampu bahasa Inggris. 

Bersama salah satu pramugari. Kalau tak salah ingat dia dari Maroko. Namanya lupa.. Hehehe.

Jadinya teman-teman kadang bikin humor memanggil bahasa Suroboyo atau Indonesia untuk menggoda mereka. Tentu saja karena tak paham, para pramugari cuek saja atau cuma senyum-senyum saja. Sedangkan kita tertawa senang.

Ketiga, karena standar Internasional dan penerbangan jarak jauh, maka pelayanannya juga beda. Makananny sungguh enak. dalam perjalanan selama itu kita dapat 2 makan berat. Yakni setelah take-off dari Jakarta. Ya, kita transit dulu di Jakarta untuk isi BBM selama sekitar 1 jam. Maka kita gak turun. Nunggu di dalam pesawat.

Lalu sesaat sebelum turun. Mungkin ya sekitar pk 2-an. Kita makan berat lagi. Di antara itu kita dapat beberap kali snack dan minum. Karena saya sedikit bisa bahasa Inggris, saya mencoba berbagai minum. Termasuk minta susu. Hehehe.

Di pesawat ada fasilitas, depan kita ada display multimedia. Dan kita diberi gratis earset untuk mendengarkan secara private. Ya selain itu memang gak ada speakernya. Harusnya dengan eraset ini lewat display itu kita bisa nikmati film, musik dan game. 

Bersama pramugara dan pramugari Saudia Airlines

Tapi selama penerbangan itu, sudah saya coba berbagai menu, tetap tak bisa menikmatinya. Display-nya hanya bisa menampilkan posisi pesawat di bumi. Jadi kita tahu sekarang lewat Sumatra, atau sudah mendekati Saudia.

Konfigurasi pesawat Jumbo ini satu deret terdiri 3 bagian. Sisi dekat dinding pesawat, kiri kanan, terdiri 3 kursi. Lalu ada gang. Di tengah ada 4 bangku. Jadi 1 deret ada 10 penumpang. 3 deret dan 2 gang. 

Saya ada di bagian belakang. Dekat ekor. Kkeuntungannya dekat toilet. Hehehe.

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir dan berkomentar.
Statsounter
View My Stats
Total Hits