Esok paginya, Rabu 3 Juni kantornya digeledah Kejaksaan Agung. Dan bersamaan itu dia mengucap terima kasih ke Presiden. Sorenya ditangkap karena korupsi. Ihik-ihik. Entah, apa doa apa yang dipanjatkan di tanah suci. Maka berhati-hatilah dengan doa yang Anda panjatkan.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Kata orang berdoa di tanah suci itu mujarab. Cespleng. Langsung dikabulkan. Atau cukup cepat terwujud. Apalagi kalau dilakukan di tempat-tempat yang disabdakan Rasulullah seperti di Raudhah, Multazam, Hijir Ismail, dll. Maka wajar kalau banyak orang yang titip doa bila ada yang ke tanah suci.
Jangankan berdoa, 'kretekan' saja terwujud. Kretekan ini istilah Jawa, mungkin terjemahannya 'kata hati'. Banyak peristiwa yang diceritakan terkait kretekan hati seseorang saat di tanah suci. Ini biasanya jadi bahan obrolan saat bersilaturahim ke orang yang baru datang haji/umrah.
Saya sendiri juga mengalami hal demikian. Pernah suatu ketika, timbul kretekan, di mana ya sarang para burung Merpati yang banyak di tanah suci? Saat itu kretekan muncul di Mekah setelah sholat Isyak.
Saat pulang menuju terminal, macet. Berdesak-desakan. Ini terjadi karena jumlah bus tak mampu mengangkut para jamaah.
Saat tak bergerak itu, saya tolah-toleh sekeliling. Melihat tebing seperti ada siraman putih. Saya perhatikan. Ternyata siraman itu seperti kotoran para burung Merpati. Benar.
Di atasnya berkerumun banyak burung Merpati. Mereka tertidur di sarangnya. Ternyata mereka, para burung Merpati, ya tinggal di sana. Di tebing-tebing, bukit sekitar Mekah.
Ya Allah, jawaban langsung dari kretekan hati saya.
Saat lain yakni sholat Dhuhur, saya penasaran di mana ya para jenazah yang disholati itu? Bagi yang pernah ke sana, pasti tahu bahwa setiap sholat berjamaah dilanjutkan dengan sholat jenazah.
Tapi hampir tiap hari datang ke masjid belum pernah melihat jenazahnya. Lha kok pulangnya mau kembali ke hotel berpapasan dengan rombongan jenazah.
Ya Allah, jawaban langsung dari kretekan hati saya.
Itu kretekan, bagaimana dengan doa? Sama. Kalau di pengalaman saya, ada seorang teman titip doa. Ini sebenarnya saya lama tak pernah berjumpa dengannya. Mungkin dia tahu dari pamitan saya di Facebook, lalu dia titip doa.
Doanya agar dilunasi hutangnya. Saat di Arafah semua doa titipan, saya panjatkan termasuk doanya. Doa-doa itu titipan mahasiswa dari sobekan notes mereka. Dari titipan teman, tetangga lewat WhatsApp. Dari teman-teman online lewat message media sosial.
Saya belum pulang ke tanah air, dia kirim kembali message lewat media sosial bahwa doanya terkabul. Hutangnya lunas. Alhamdulillah. Masya Allah Tabarakallaahu.
Karena itu cesplengnya doa, maka harusnya hati-hati dengan doa yang dipanjatkan.
Seorang Ustadz pernah bercerita. Seorang jamaahnya saat di tanah suci tobat. Menyesal dengan apa yang dilakukan saat mencari nafkah. Dia minta agar nanti bisa mencari nafkah dengan cara halal. Tak perlu dengan cara haram. Dan berdoa agar hartanya disucikan.
Pulang ke tanah air, beberapa hari kemudian rumahnya terbakar. Habis. Doanya sepertinya terkabul. Hartanya disucikan. Ihik-ihik.
Usradz lain pernah bercerita. Ada jamaah yang berdoa. "Ya Allah, saya capek dengan lingkungan kantor yang penuh intrik politik, manipulasi, korupsi dll. Tapi kalau gak ikut, akan dikucilkan. Ingin saya resigned tak bekerja, tapi tetap bisa makan 3 kali sehari."
Eh, pulang ke tanah air ditangkap penegak hukum. Ada kasus lama. Akhirnya dia dipenjara. Doanya terkabul. Dia tak bekerja, tapi tetap makan 3 x sehari. Ihik-ihik.
Sebenarnya di Al Qur'an juga ada kisah yang mirip. Sampai ada beberapa Ustadz, ini sebenarnya terkabulnya doanya. Yakni usai Nabi Yusuf dituduh istri majikan melakukan pelecehan seksual, kalau istilah sekarang.
Namun dia terbantu dengan seseorang yang bijak, yang mengatakan bila dia melakukannya maka bajunya terkoyak di depan. Padahal bajunya terkoyak di belakang.
Harusnya dia selamat dan dibebaskan dari segala tuduhan. Tapi tetap saja dia dimasukkan ke penjara. Itu mungkin karena doanya.
"Yusuf berkata, "Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika Engkau tidak hindarkan aku dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan) mereka dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh."" QS Yusuf:33.
Ini sepertinya juga terjadi pada seorang Kepala Badan Negara yang mengurusi makan bergizi gratis. Sebelumnya banyak netizen yang memujinya, karena meski berkuasa dia berhaji dengan jalur reguler. Tak haji khusus.
Lalu entah ada panggilan atau bagaimana, dia mempercepat pulangnya ke tanah air. Sampai ke tanah air, Senin 1 Juni sore. Esok pagi, Selasa 2 Juni dia mendampingi Presiden melihat proses MBG di sebuah sekolah. Malamnya dia dicopot.
Esok paginya, Rabu 3 Juni kantornya digeledah Kejaksaan Agung. Dan bersamaan itu dia mengucap terima kasih ke Presiden. Sorenya ditangkap karena korupsi. Ihik-ihik.
Entah, apa doa apa yang dipanjatkan di tanah suci. Maka berhati-hatilah dengan doa yang Anda panjatkan. [TSA, 4/6/2026 Dhuha]



Posting Komentar