Saat Nabi Muhammad mengisahkan bahwa tadi malam melakukan perjalanan jauh hanya dalam waktu semalam, banyak yang tak percaya. Yakni dari Mekah ke Palestia dan dari Palestina ke Langit ke-7. Saat 1440 tahun lalu hal itu adalah di luar nalar.
Sekarang meski di zaman modern dengan teknologi bisa melakukan perjalanan lebih cepat, tapi tetap tak secepat yang dikisahkan Nabi Muhammad. Sehingga masih saja ada yang menganggap kisah Isra' Mi'raj itu adalah dongeng dari beliau.
Padahal jauh sebelum Nabi Muhammad lahir, ada peristiwa yang hampir mirip. Yakni perjalanan singgasana dari Yaman ke Palestina dalam sekedip mata. Lebih jauh jaraknya.
"Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).."" QS 27:40
Sedangkan dalam peristiswa itu obyeknya adalah singgasana dan yang menggerakan adalah manusia. Bagaimana kalau obyeknya Nabi Muhammad, yang jiwanya suci dan yang menggerakkan Allah? Pastilah lebih dahsyat!
Di zaman modern ini banyak juga peristiwa yang hampir sama seperti ini. Kyai Ilhamullah saat muda pernah menemui Abahnya Gus Baha saat beliau di Surabaya. Saat diminta doa untuk kematian ayahnya Kyai Ilhamullah yang barusan meninggal, Abahnya Gus Baha bisa bercerita secara detil peristiwa yang terjadi saat ini di sekeliling makam ayah Kyai Ilhamullah.
Bagaimana mungkin? Padahal posisinya di Surabaya.
Mari kita dengarkan kajian Isra' Mi'raj ditinjau dari peristiswa spriritual oleh Ustadz Dr KH ILHAMULLAH SUMARKAN FANIDDIN, dosen UINSA Surabaya sekaligus pengasuh Ponpes Mahasiswa An Nur Surabaya. Beliau juga host program di radio TV dan ketua PW LDNU Jatim. Meski tema kajiannya berat, dipaparkan secara segar dan mudah dipahami.



Posting Komentar