Saat ini berita viral dari Mojokerto. Seorang badut jualan balon di depan mart-mart. Dia mengajak anaknya yang masih kecil, sekitar umur 3 tahun, berjualan. Sambil berjualan dia momong anaknya. Tampak kasih sayangnya pada anaknya. Sehingga diam-diam banyak yang memvideokan mereka.
Mereka melihat bagaimana seorang kepala keluarga berjuang menafkahi keluarganya. Dan tetap bertanggung jawab sebagai Ayah dengan momong anaknya. Kadang mereka masih berjualan sampai malam, pk 22.00. Kadang bila tak laku maka dijual keliling dengan sepeda onthelnya yang jelek.
Orang melihat keteladan padanya sebagai kepala keluarga dan ayah. Sehingga simpati seperti membeli balonnya meski tak butuh banget. Atau merelakan kembaliannya, yang dibalas dengan doa yang tak habis-habis dari sang Bapak.
Tapi siapa sangka, kemudian ditangkap polisi karena telah mencoba membunuh istri dan ibu mertuanya. Istri masih selamat sedangkan ibu mertua tak tertolong.
Gara-gara istri selingkuh dan sering manas-manasi dengan menunjukkan bukti transferan dari selingkuhannya. Mertua kerap membela anaknya bila terjadi pertengkaran suami-istri ini.
Orang-orang heran, bagaimana sang suami tampak sabar dan bertanggung jawab, bisa juga emosi. Malah kalap. Istri sudah selingkuh, bahkan menunjukkan bukti selingkuhnya, kenapa juga tak mau cerai? Atau ibu mertua mengapa membela anaknya yang jelas sudah selingkuh? Sedangkan sang suami sudah berusaha keras menghidupi keluarga, meski kurang.
Di sini kita lihat perlunya mengontrol emosi. Emosi sering membuat hidup sengsara. Padahal sumber pemicu kerap di sekitar kita. Tak jauh. Seperti dari pasangan, orang tua, anak, atasan, rekan kerja, tetangga dll.
Ada 3 cara agar dapat berdamai dengan pemicu emosi. Salah satunya menganggap ujian sebagai amal sholeh. Bagaimana penjelasannya? Apa lagi yang lain?
Mari kita simak kajian ilmu kehidupan yang perlu dikuasai. Sebuah ilmu modern, Psikologi, namun ditinjau dari sudut Islam. Harusnya malah ilmu seperti ini diajarkan di sekolah. Ilmu yang berguna sepanjang hidupnya.
Sebuah kajian yang jarang ada. Sebuah kajian dari seri Psikologi Islam yang dikupas oleh Ustadz AHMAD HISYAM HIDAYAT, SE.I, seorang motivator, trainer pelatihan dan konsultan lembaga Psikologi Islam. Kajiannya lebih mudah dipahami dan menarik karena dibantu dengan multimedia. [TSA, 08/05/2026 bakda Dhuha]
Kali ini dalam seri "PSIKOLOGI ISLAM" Part #30.



Posting Komentar