Organisasi dibentuk dengan tujuan mencapai tujuan bersama. Untuk itu perlu ditunjuk seseorang yang akan memimpin, mengatur dan bertanggung jawab atas pencapaian itu.
Misal: di kelas 5 SD sebuah sekolah agar proses belajar mengajar berjalan lancar, maka seluruh siswa kelas itu sepakat memilih seseorang menjadi ketua kelas. Maka ketua kelas ini bertanggung jawab atas pencapaian itu. Sehingga dia akan memimpin dan mengatur anggota. Untuk itu seluruh anggota harus patuh dan taat padanya.
Cuma kadang terjadi yang dipilih sebagai pemimpin kadang berubah. Dulu mulai kelas 1-4, dia jujur, rajin belajar, suka membantu teman. Ternyata setelah dipilih jadi ketua kelas, dia berubah. Ternyata dia tak jujur. Uang kas kelas dibuat beli sepatunya. Ketika dia ditanya keuangan, dia berbohong bahwa sekolah minta kas untuk sesuatu.
Selain itu dia mulai sewenang-wenang. Karena merasa berkuasa, dia main tangan pada teman-temannya. Bahkan yang lebih parah, dia malak teman-temannya. Dalihnya untuk upeti guru, agar diberi bocoran soal. Juga dia tak memedulikan kepentingan teman-teman kelasnya.
Pokoknya kalau istilah sekarang, tak amanah. Seluruh teman sudah gelisah dengan kepemimpinannya.
Harus bagaimana ini? Kata Al Qur'an surat An Nisa ayat 59, harus taat pada pemimpin. Bahkan kalau ditempelengi, dipalak tetap harus taat, kata sebuah hadits. Ini ucapan seorang teman yang ikutan ngaji sepulang sekolah ketika teman-teman mengeluhkan sang ketua kelas.
Lalu bagaimana sebenarnya sikap kita bila pada pemimpin kita yang dzolim, suka bohong, tak amanah, tak mikir untuk kepentingan anggotanya? Apa kita masih wajib taat padanya?
Mari kita simak kajian Al Qur'an yang diasuh Ustadz KH Drs KHOIRUDDIN, M.Ag, pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro', Surabaya. Beliau juga pengasuh program di radio Suara Muslim FM Surabaya. Mengikuti kajiannya bagai santri di pesantren karena menggunakan kitab kuning Tafsir Ibnu Abbas. Sesuatu yang jarang bisa kita ikuti di luar Pesantren.
Kali ini dalam kajian Tafsir Al Qur'an surat 4:59.



Posting Komentar