Rahasia Rezeki (16): Sekolah Sebagai Rezeki Yang Lain


Kadang saya bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi. Karena banyak orang yang tak cerdas, tak memiliki keinginan sekolah dan malas sekolah, tapi tetap bisa bersekolah dan kelak jadi pimpinan.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Saat keluar dari masjid Jumat kemarin, saya terkejut disapa teman lama. Saat konsentrasi bagaimana mengeluarkan motor yang terjepit di parkiran yang rapat ini, tiba-tiba seorang teman di depan saya. 

Saya sungguh senang melihatnya kembali. Maklum sejak pindah rumah karena berkeluarga, saya jarang melihatnya. Sebenarnya dia adalah tetangga, karena umurnya lebih tua dari saya. Waktu saya masih SD dia mungkin sudah duduk di SMP. 

Kita tinggal di kampung yang penduduknya berpendapatan menengah ke bawah. Kebanyakan bekerja di sektor informal: sopir, penjual makanan, pedagang kecil dan sebagainya. Kalaupun ada yang pegawai, tingkatannya mungkin juga rendah. 

Jadi kebanyakan tak terlalu kaya. Maka tak heran kalau selepas SMA rata-rata sudah bekerja. Bahkan ada yang hanya lulus SMP. Salah satunya yang seperti itu adalah teman saya itu.

Selepas lulus SMP, dia bekerja membantu bapaknya kerja di bengkel sepeda. Awalnya hanya membantu, namun kemudian bekerja penuh karena bapaknya sudah tua. Tak sanggup bekerja, hanya membantu pekerjaan kecil. Atau lebih tepatnya sebagai kasir.

Sebenarnya teman saya itu pintar. Keinginan untuk sekolah lebih tinggi sebenarnya tinggi. Namun keadaanlah yang membuat dia putus sekolah. Meski begitu, dia tak menyerah pada keadaan. 

Dia suka membaca. Membaca apa saja. Karena dia bukan orang kaya, dia hanya bisa membeli buku atau majalah bekas. Kalau ketemu dengan saya, dia selalu senang mendiskusikan banyak hal. Dia tahu saya sekolah terus sampai tinggi.

Saya senang dengan semangat ini. Saya katakan penemu pesawat terbang adalah seorang tukang bengkel sepada, Wilbur dan Orville Wright. Keadaan seperti ini tak harus menyurutkan untuk sekolah lagi. Tapi ternyata sulit untuk sekolah lagi. Apalagi setelah dia menikah dan memiliki anak. 

Meski sebagai tukang bengkel, dia tetap bekerja sepenuh hati. Sehingga wajar kalau pelanggannya banyak. Setiap hari yang masuk ke bengkelnya banyak. Sehingga harus antri. Bahkan antriannya bisa sampai besok. Jadi kalau masuk hari ini, baru bisa diambil besok.

Saya membayangkan bagaimana kalau dia bisa sekolah. Pasti dia akan memiliki rezeki yang lebih banyak. Sayang dia hanya dari keluarga miskin. Sehingga karunia kecerdasan, ketekunan dan semangat bersekolah harus luruh. 

Kadang saya bertanya pada Tuhan, mengapa hal ini bisa terjadi. Karena banyak orang yang tak cerdas, tak memiliki keinginan sekolah dan malas-malasan sekolah, tapi tetap bisa bersekolah. 

Dengan bekal ijazah mereka bisa bekerja. Dan bahkan mungkin karena urutan, dia bisa menjadi pimpinan atau pejabat. Mereka bisa menjadi kaya, memiliki rezeki yang banyak.

Tapi sebaliknya ada yang pintar tapi tak bisa sekolah. Jadinya hanya bisa bekerja sebagai pekerja serabutan. Atau bekerja di sektor informal. 

Karena itu bila anda mendapat berkah untuk sekolah tinggi, itu merupakan rezeki bagi anda. Anda tak hanya sekedar menyukurinya, tapi seyogyanya anda perhatian dan membantu yang kekurangan. Bisa saja rezeki yang anda nikmati adalah titipan dari yang kekurangan. [TSA, 02/11/2010 subuh]

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir dan berkomentar.
Statsounter
View My Stats
Total Hits