Rahasia Rezeki (17): Ibu Yang Malang


Saya tiba-tiba sadar. Ternyata anak bisa saja merupakan sebuah rezeki buat kita. Karena bila kita tua, seperti menjadi anak-anak lagi, kita ‘dipelihara’ oleh anak kita. Dengan anak, masa tua kita bisa lebih bervariasi dengan celotehan para cucu.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Wanita tua itu berteriak-teriak minta tolong. Tak ada yang mendengar. Karena siang itu begitu hiruk. Maklum ini sebuah terminal. Tapi dia tetap minta tolong, karena dia sudah tak tahan dengan sinar matahari. Kulitnya sudah mulai melepuh.

Dia berteriak-teriak terus, sampai akhirnya suara serak. Dan lama-kelamaan mulai habis. Air matanya sudah kering. Sudah tak bisa lagi menangis. Namun sekarang dia tak berteriak saja, tapi juga berdoa. Dia berteriak pada Tuhan.

Doanya sepertinya didengar. Dua tukang becak mendengar. Meski awalnya aneh, seperti ada suara minta tolong, tapi mana mungkin sumber suaranya itu dari tempat sampah. Ya, benar tempat sampah. 

Alangkah terkejutnya kedua tukang becak itu. Di tumpukan sampah di ujung terminal Mojokerto tergeletak seorang wanita tua. Wanita dengan perawakan gemuk dengan memakai baju yang lusuh. Sepertinya wanita gelandangan. 

Diangkatnya wanita itu dan diberi minuman. Ternyata wanita itu ‘dibuang’ oleh anak kandungnya. Mereka orang Surabaya yang pergi ke Mojokerto untuk berobat. Ibu ini menderita penyakit liver akut. Mungkin karena setelah diobati dengan maksimal, mereka menoleh ke alternatif. 

Maksimal maksudnya dengan dana yang dimiliki. Mereka tak bisa membawa ke pengobatan modern yang lebih lanjut. Karena pasti membutuhkan dana yang lebih banyak.

Setelah dibawa ke Mojokerto, mungkin karena putus asa atau lainnya, anaknya menelantarkannya di terminal. Sebelumnya wanita ini tidur-tiduran di terminal, seperti gelandangan. Tapi entah kenapa sehingga akhirnya malah di tempat sampah.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita itu. Anak kandungnya yang telah dilahirkan, dibesarkan sampai tega melakukan hal ini. Apakah anaknya menginginkan ibunya meninggal saja? Dan langsung hilang bagaikan sampah di tumpukan sampah yang menggunung itu?

Tentu saja setiap orang tak berharap sakit. Sakit ringan seperti pilek sekalipun. Dan tak seorangpun ingin miskin, sehingga tak bisa berobat. Tapi kalau sudah sakit, bagaimana lagi? Harus dihadapi. 

Tentu saja jadi tambah beban bagi yang sehat seperti sang anak. Bisa saja sang anak sudah memiliki masalah sendiri. Sehingga tambahan masalah menjadi beban lagi yang tak bisa ditanggung lagi.

Saya yang membaca berita ini, sungguh prihatin. Kejadian ini bisa saja menimpa orang lain, termasuk saya. Bahkan di kejadian lain lebih parah misal sampai dibunuh segala.

Saya tiba-tiba sadar. Ternyata anak bisa saja merupakan sebuah rezeki buat kita. Karena bila kita tua, seperti menjadi anak-anak lagi, kita ‘dipelihara’ oleh anak kita. Dengan anak, masa tua kita bisa lebih bervariasi dengan celotehan para cucu. 

Namun sering kita tak melihat itu. Kita hanya berdoa mendapat rezeki banyak yakni mendapat harta banyak. Padahal anak juga rezeki. Apa yang terjadi punya harta banyak, tapi tak memilki anak.

Karenanya kita syukuri rezeki anak ini dengan memelihara, membimbing dan mendidiknya dengan benar. Tak sekedar ilmu, tapi akhlak dan agama harus ditanamkan sejak dini. Karena kita tak bisa memetiknya hingga mereka menjadi besar. 

Apakah nanti jadi buah yang segar dan nikmat disantap? Atau hanya pahit dan tak sedap dinikmati? Semua tergantung dari pemeliharaan kita. Kisah wanita ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi kita.  [TSA, 07/11/2010 subuh]


~~~
Saya membaca berita ini di harian Jawa Pos, Jumat 29 Oktober 2010. Tapi ketika mau menulis artikel ini dengan membaca ulangnya, saya tak menemukan beritanya. Saya sudah berusaha mencarinya via online tapi tak menemukan. Namun saya temukan sebuah artikel blog yang menanggapi berita ini. Silakan dibaca untuk referensi:

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir dan berkomentar.
Statsounter
View My Stats
Total Hits