Rahasia Rezeki (18): Kisah Matinya Surabaya Post


Meski Surabaya Post bangkrut, sebenarnya harian ini masih ada di hati masyarakat Surabaya. Jadi kalau tetap dihidupkan sebenarnya masih bisa dijadikan periuk rezeki. Cukuplah, meski tak berlebih.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Warga Surabaya khususnya yang berusia dewasa sudah pasti tahu harian Surabaya Post. Sebelum Jawa Pos terkenal seperti hari ini, Surabaya Postlah yang lebih banyak dibaca. Masa-masa keemasan ini sekitar tahun 1970-an dan 1980-an. Dan masih bertahan kejayaannya sampai awal 1990-an.

Saya sendiri mempunyai ikatan batin dengan harian ini, yakni waktu saya masih duduk di bangku SMA. Sewaktu di SMA ini tulisan reportase saya banyak dimuat di Surabaya Post. Karenanya saya lalu aktif di organisasi reporter muda yang dikelola oleh Surabaya Post. Nama perkumpulan ini adalah "Kronik Pelajar".

Kelak meski saya sudah lulus SMA, saya masih menulis untuk Surabaya Post. Tapi sudah bukan reportase atau artikel, namun sudah opini. Dan dimuat di halaman opini yang biasanya memuat tulisan para akademisi. 

Jauh sebelum itu ketika saya masih SD, saya juga sudah menggemari harian ini. Karena orang tua tidak mampu berlangganan, saya senang kalau diajak ke rumah Paman. Karena Paman berlangganan koran ini. Bahkan saya sering menunggunya, karena tibanya sore hari.

Konon Dahlan Iskan, pemilik Jawa Pos, sempat sowan ke Tuti Azis, pemilik Surabaya Post. Hal ini dilakukannya saat Dahlan Iskan mau mengembangkan Jawa Pos. Yang menarik, Tuti memberi banyak saran pada Dahlan. Mungkin Tuti beranggapan Jawa Pos bukan pesaingnya karena kedua koran ini terbit di waktu berbeda. Sedangkan yang lagi trend saat itu adalah harian sore. Padahal kelak Jawa Pos itulah yang akan 'membunuh' Surabaya Post.

Memang sebelum 'terbunuh', Surabaya Post mengalami mismanagement. Meski begitu tetap survive, karena para pelangan dan pemasang iklan masih percaya dengan Surabaya Post. Baru mulai tenggelam setelah ditinggal mati pemiliknya. Sangat disayangkan anak-anaknya tidak dikader untuk meneruskan tongkat estafet Surabaya Post sehingga akhirnya benar-benar tenggelam.

Yang menarik adalah setelah Surabaya Post ini bangkrut. 

Sebuah perusahaan pada dasarnya digerakkan oleh 2 organ yakni pemilik dan pengelola. Pengelola itu direksi, karyawan, rekanan dan lainnya. Pemilik bisa keluarga dan teman-temannya yang juga memiliki saham.

Meski Surabaya Post bangkrut, sebenarnya harian ini masih ada di hati masyarakat Surabaya. Jadi kalau tetap dihidupkan sebenarnya masih bisa dijadikan periuk rezeki. Cukuplah, meski tak berlebih.

Karena hal inilah 2 organ perusahaan, pemilik dan pengelola, berebut untuk melanjutkan Surabaya Post. Setelah cukup sengit berebut akhirnya mereka pecah dan berusaha sendiri-sendiri.

Pemilik memiliki merk 'Surabaya Post', sedang pengelola memiliki pengetahuan dan pengalaman mengelola Surabaya Post. Namun dalam perjalanan keduanya sama-sama tak maju.

Dari informasi seorang teman yang bekerja untuk keduanya, ada hal yang menarik mengapa hal itu terjadi. Surabaya Post asli yang dikelola pemilik, karena tak tahu bagaimana membuat koran yang bagus. Sehingga koran ini tak laku.

Sedang Surabaya Post lain yang dimiliki pengelola, juga tak maju. Karena para pemasang iklan tak percaya dengan harian ini. Mereka masih percaya dengan pemilik Surabaya Post asli. Maklum Surabaya Post puluhan tahun telah banyak membantu bisnis mereka. Padahal karena dikelola dengan baik, Surabaya Post ini lebih bagus. 

Jadinya keduanya sama-sama tak mendapat rezeki yang cukup. Kadang dalam hidup sebuah rezeki yang datang baru dapat diraih setelah bekerja sama dengan orang lain. Namun karena ketamakan, salah satu pihak berusaha menguasai seluruhnya. Yang kerap terjadi justru malah hancur. Karenanya kita harus rendah hati dan menghormati yang lain, karena entah dari mana rezeki itu sebenarnya berasal. [TSA, 24/11/2010 subuh]

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir dan berkomentar.
Statsounter
View My Stats
Total Hits