Rahasia Rezeki (23): Rahasia Rezeki Warung Laris (2)


Saya bersyukur warung-warung yang dituju tutup. Kalau tidak, saya tidak menemukan warung itu. Saya tahu, hal itu bukanlah kebetulan. Pasti ada yang mengatur. Dan kesempatan itu dimanfaatkan dengan tepat oleh pemilik warung. 

Oleh: Mochamad Yusuf*

Saya ingin melanjutkan serial ‘Rahasia Rezeki’ nomor 22 tentang rahasia sebuah warung yang laris. Kalau di artikel itu, saya bercerita tentang sebuah keluarga menyesal yang kenapa datang ke sebuah warung yang tak tepat. 

Di artikel itu, sebenarnya sebuah keluarga ingin datang ke warung langganan, namun ternyata tutup. Bahkan ketika ingin ke warung langganan lain juga tutup. Akhirnya karena putus asa, mampir ke sebuah warung dan ternyata tak enak. Sehingga menyesal.

Saya juga pernah punya pengalaman seperti ini. Hampir mirip. Namun hasilnya beda.

Suatu ketika setelah lebaran beberapa tahun lalu. Waktu itu saya masih di sekolah menengah. Ada kerabat yang datang dari luar kota. Saudara desa dari ayah.

Karena waktu itu ibu tidak ada di rumah, maka tidak ada masakan. Untuk menghormati tamu, kita ajak makan ke luar. Rencananya kita akan ajak makan ke sebuah warung langganan kita. Letaknya di tengah kota, agak jauh dari rumah. Tak apa meski jauh, sekalin jalan-jalan melihat suasana kota.

Namun setelah sampai di sana, ternyata tutup. Oke, kita cari warung langganan lain. Ternyata juga tutup. Demikian setelah kita cari-cari warung lain. 

Sebenarnya aneh juga kalo banyak warung atau restoran tutup. Memang sih masih ada suasana lebaran. Namun sudah beberapa minggu setelah lebaran. 

Jadinya kita malam itu hampir mengelilingi seluruh penjuru kota Surabaya. Mulai dari sisi timur, ujung utara, barat sampai ke sebuah jalan yang biasanya dipenuhi penjual makanan. Perut kita sudah keroncongan. Memang awalnya sekalian jalan-jalan. Tapi ini sudah kelewat jam makan. 

Tak terasa kita kembali ke rumah. Di sebuah jalan dekat rumah, kira-kira 2 km sebelum rumah, ada sebuah warung buka. Kita sudah putus asa. Kita tak peduli, apakah enak atau tidak.

Warung itu menjual lontong Tahu Tek. Makanan khas Surabaya yang berisi tahu diiris kecil yang disiram petis yang dibumbui kacang tanah dan bawang putih. 

Setelah makanan siap, kita santap. Astaga enak sekali. Kita biasa makan Tahu Tek yang lewat depan rumah. Dan kita cukup dengan rasa yang dijual pedagang keliling. Jarang ada yang jual Tahu Tek di warung seperti ini. Kita yang sudah kelaparan, sungguh merasa senang dengan ditemukannnya warung ini. Apalagi harganya tak terlalu mahal.

Sejak itu warung Tahu Tek itu menjadi langganan saya. Setiap kesempatan khususnya dapat rezeki, saya selalu membeli. Bahkan saya sering membungkus untuk dibawa pulang. Sampai sekarang, setelah saya menikah dan memiliki anak sekalipun, saya masih rutin ke sana. Kelak saya tahu, warung itu memang sudah terkenal dan menjadi langganan artis ibukota.

Saya bersyukur warung-warung yang dituju tutup. Kalau tidak, saya tidak menemukan warung itu. Saya tahu, hal itu bukanlah kebetulan. Pasti ada yang mengatur. Dan kesempatan itu dimanfaatkan dengan tepat oleh pemilik warung. 

Saya datang dan puas. Beda dengan artikel nomor 22, mereka datang dan tak puas. Rezeki yang mendatangkan ke warungnya, tak berakibat pada rezeki selanjutnya. Karena itu sebuah rezeki akan menjadi rezeki, setelah kita berdoa (sehingga ada pengunjung baru), berusaha (membuat masakan enak) sehingga menjadi rezeki yang berkelanjutan. [KMD, 10/12/2010]



~~~
Rahasia Rezeki adalah serial tulisan yang mengangkat tema terkait rezeki. Diangkat dari kisah nyata bersumber dari berbagai pihak. Tulisan ini bermaksud menjadi perenungan bahwa Tuhan memang Maha Kuasa. Dan semuanya di dunia ini tergantung dari kehendakNya. Meski bisa juga atas usaha manusia karena Tuhan memang Maha Adil, namun tak selalu demikian. Karena kembali pada Tuhanlah yang Maha Kuasa. Jadi pantau terus serial "Rahasia Rezeki" ini. Baca serialnya di sini: "Rahasia Rezeki".

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir dan berkomentar.
Statsounter
View My Stats
Total Hits