![]() | |
|
Sebenarnya rencananya kami baru diminta berkumpul, tentunya bersama tas-tas jinjing kami, usai Ashar. Maka setelah jamaah Dhuhur, lanjut makan siang, setelah itu kita santai-santai saja. Ternyata ada perubahan rencana. Jadwalnya dimajukan.
07/06/2022 - DAY #2
Kami dibekali 3 tas. Tas pertama, tas koper. Tas besar. Ini isinya semua barang perlengkapan. Termasuk pakaian. Tas ini nanti dimasukkan ke bagasi. Tas ini akan terpisah dengan kita. Karena tas ini bercampur dengan tas jamaah lain, maka kami beri identitas sendiri agar kami bisa mengenali dengan cepat. Meski ada tulisan nama kami.
Tas ke-2 adalah, tas jinjing. Tas ini akan ikut kita masuk kabin pesawat. Ini berisi barang-barang yang sangat dibutuhkan kita, misal obat-obatan, perlengkapan mandi dll. Karena saat berangkat dari KBIHU tas koper sudah terpisah dengan kita. Padahal kita masih beraktivitas di Asrama haji.
Tas ke-3 tas terakhir adalah tas paspor. Tas kecil yang cukup menyimpan dokumen-dokumen penting kita misal paspor, visa, info hotel, izin masuk ke tanah suci dll. Tas ini yang kita bawa ke mana-mana termasuk ke masjid.
Saat sebelum berangkat ke bandara, ada 2 kegiatan pembelian yang kami lakukan. Kami transaksi lewat booth-booth pameran. Pertama, kami beli paketan internet. Saya beli paketan dari perusahaan seluler, Tri (3). Ini paketan paling murah menurut saya.
Ternyata paketan itu tidak cukup. Saya masih harus beli lagi di tanah suci. Tapi beli SIM Card baru milik operator seluler Arab Saudi sana. Sedangkan quota istri masih belum habis.
Pembelian kedua, kami minta permak tas paspor. Permak ini penguatan talinya agar gak gampang putus. Alasannya di sana berdesak-desakan, sehingga ada resiko bisa putus. Lalu di tali ada tulisan embarkasi Surabaya. Sebagai identitas.
Kelak tahu sebenarnya ini hal sia-sia. Mungkin benar di tahun-tahun sebelum kami. Tapi angkatan kami, karena ada pembatasan jamaah, maka cukup lengang. Rasanya tak pernah sampai berdesak-desakan. Jadi penguatan tali sebenarnya tak perlu.
Sebenarnya kami ingin tukar uang. Yakni menukarkan uang rupiah kami ke Riyal. Tapi kata seorang teman, nilai tukarnya rendah. Rugi, lebih baik ditukar di tanah suci, katanya.
Dan memang akhirnya kami melakukan tukar uang di tanah suci. Gak hanya sekali, tapi beberapa kali. Tapi tak tahu apakah lebih murah atau mahal di sana. Sudah tak peduli, karena sudah butuh uang Riyal.
Kembali ke kamar, berniat istirahat. Tapi tak bisa benar-benar beristirahat. Karena kami tak bisa memejamkan mata. Ingin rasanya segera masuk pesawat dan berangkat ke tanah suci. Tapi jadwalnya baru setelah Ashar.
Ternyata sekitar pk 13.00-an, kami sudah diminta berkumpul dengan tas jinjing kami. Tentu saja cukup bikin panik, karena berarti ini dimajukan jadwalnya.
Di ruangan itu kita diberi paspor yang ada visanya dan juga nomor kursi. Ternyata di sini ada insiden kecil. Tas saya dan istri tertukar. Maka otomatis nomor kursi tertukar. Meski ini tak masalah, karena kita bisa bertukar saat sudah duduk di pesawat.
Tapi yang sedikit mengganggu nomor kursi ini juga sebagai idetintas seperti nomor absen. Sehingga misal saat diabsen, kami tertukar dengan istri. Gak terlalu masalah sih, tapi bagi saya kurang sempurna saja. Hehehe.
Ya, kok sampai tertukar? Sepertinya saat masuk X-ray, sebelum masuk bus ke bandara, saya salah ambil tas. Atau istri yang salah ambil tas. Baru sadar tertukar, saat sudah di bus mau berangkat ke Bandara.
Selain diberi paspor dan visa, kami juga diberi uang saku. Sudah dalam mata uang Riyal. Yakni sebesar SAR 1.500. Waktu itu 1 SAR = Rp 4.000. Jadi total kami diberi uang saku, istilah mereka Living Cost, sebesar Rp 6.000.000 (saya lupa rinciannya, karena ini saya tulis sekarang, 14/05/2026).
Uang saku itu cukup. Sangat cukup. Tapi ya tergantung bagaimana kita hidup di sana. Hehehe.
| Tahapan pemberian paspor, visa dan living cost. Setelah itu menuju bus untuk langsung ke pesawat. https://youtu.be/avR9l78nX-k |



Posting Komentar