Setelah sarapan, kami - saya dan istri - kembali ke kamar masing-masing. Namun sebelum itu kita sempat jalan-jalan melihat berbagai booth yang berjualan di Asrama Haji. Ada perusahaan seluler yang menjual paketan internet. Sepertinya semua perusahaan seluler ikutan di sini.
07/06/2022 - DAY #2
Baru sadar, kami belum punya paketan internet. Sebenarnya saat di KBIHU ada sebuah perusahaan seluler yang menawarkan paketan internet. Banyak teman yang beli, tapi kami tahan dulu. Mau cari informasi dulu. Mau cari yang lebih murah.
Ternyata sampai berangkat, kami belum sempat membeli. Meski begitu, dan sudah di depan booth di Asrama Haji, kami belum juga memutuskan membeli. Hehehe.
Kembali ke kamar. Saya lihat teman-teman punya ativitas masing-masing. Ada yang tiduran atau malah tidur benar. Ada yaag mengobrol. Ada yang menata perlengkapannya.
Tiba-tiba ada pengumuman, meminta semua Karom (ketua Rombongan) dan Karu (Ketua Regu) berkumpul di sebuah gedung. Saya memang ditunjuk oleh KBIHU sebagai Karu 1-1. Artinya, saya sebagai ketua Grup ke-1 Rombongan ke-1 .
Diam-diam saya mengagumi organinasi yang dibentuk ini. Entah siapa penggagasnya. Saya pikir ini ide yang brilian. Ini mirip seperti organiasi RT, RW, dusun, desa, kecamatan, sampai ke atas.
Jadi 10 jamaah haji dimasukkan dalam 1 regu, dipimpin oleh seorang ketua. Disebut Karu. Total ada 11 orang dengan Karu-nya. Setiap 4 regu dimasukkan dalam 1 rombongan. Dipimpin oleh seorang ketua. Disebut Karom. Maka total dalam 1 rombongan ada 45 orang termasuk Karom-nya.
Lalu 10 rombongam dimasukkan dalam 1 Kelompok Terbang (Kloter). Total 450 jamaah. Cukup diberangkatkan dengan 1 pesawat yakni Boeing 747 yang double deck yang berkapitas 450 orang. Satu kloter ini akan dipimpin oleh Ketua Kloter yang didampingi oleh 1 Kyai Kloter, 1 Dokter dan 1 Perawat.
Ini khusus di angkatan saya. 2022. Katanya sebelum tahun 2022, didampingi 1 dokter dan 2 perawat. Angkatan saya memang istimewa, karena dibatasi jumlah jamaahnya. Bila tahun sebelumnya bisa 2 juta lebih untuk seluruh dunia, maka tahun kami dibatasi maksimal 1 juta. Istimewanya lagi, usia jamaah dibatasi maksimal umur 65 tahun. Untuk Indonesia dapat quota 100.000 orang.
Mungkin karena pertimbangan terbatas jumlah dan usia yang relatif muda, maka jatah perawat dikurangi.
Di luar itu ada organisasi KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah). KBIHU ini mempunyai tugas membimbing dan membekali jamaah agar siap berhaji kelak. Ikut KBIHU ini tak wajib. Boleh tak ikut.
Tapi sejak awal saat daftar haji, saya memang ingin ikut KBIHU.
Ternyata betul keputusan saya ini. KBIHU ini tak hanya berguna memberi kisi-kisi atau pelajaran agar siap berhaji, tapi merekalah yang akan banyak membantu kita dalam berhaji. Saya saksikan jamaah yang tak punya KBIH, seperti terlunta-lunta. Tak ada yang mengurus.
Maka biaya KBIHU ini diluar biaya haji. Daftar sendiri. Maka ini tergantung preferensi masing-masing jamaah. Saya sejak awal ingin berhaji dengan ibadah Tarwiyah. Maka saya ingin mencari KBIHU yang memfasilitasi hal ini.
Lho kok demikian? Ya, ibadah Tarwiyah tidak termasuk layanan yang disediakan oleh pemerintah. Padahal Rasulullah dalam berhaji ada tarwiyahnya ini. Maka biaya tarwiyah ini harus dibayar sendiri oleh masing-masing jamaah. Biaya ini akan disetorkan ke KBIHU. Selanjutnya KBIHU ini yang akan menyelenggarakan tarwiyah.
Biaya ini juga digunakan KBIHU untuk City Tour atau wisata. Maka tiap KBIHU, city tournya berbeda-beda. KBIHU inilah yang akan jadi keluarga kami saat berhaji kelak. Dan ternyata juga setelah selesai berhaji.
Untuk Ketua Kloter, Kyai Kloter, Dokter dan Perawat termasuk petugas haji. Jadi penunjukan oleh Kemenag (Kementerian Agama). Jadi mereka bukan jamaah haji. Mereka petugas haji yang malah dibayar Kemenag. Sedangkan Karom dan Karu adalah jamaah haji.
Waktu saya ditunjuk sebagai Karu, saya senang sekaligus terhormat. Pikiran saya, paling tugasnya lebih banyak administrasi. Tapi kelak, ternyata banyak sekali tugasnya. Hehehe.
Memang dalam manasik tidak dijelaskan secara spesifik apa tugas Karom dan Karu itu.
Kami bergegas setelah mendengar pengumuman agar semua Karom dan Karu kloter kami untuk berkumpul di sebuah gedung. Di sana, kami dibriefing bagaimana harusnya menjadi Karom dan Karu secara singkat dan sederhana karena waktunya terbatas. Karena siangnya sudah bersiap berangkat ke bandara.
Selesai briefing, kami diminta untuk tidak langsung kembali ke kamar. Ternyata kami diberi 'gaji'. Untuk Karu diberi uang sejumlah Rp 750.000-an, dan Karom sebanyak Rp 1.250.000-an. Lupa persis-nya. Ya sekitar itu. (saya lupa persisnya, karena ini saya tulis saat ini, 14/5/2026).
Bagi saya sungguh suprised. Karena sekali lagi tak ada info bahwa nanti akan diberi 'gaji' oleh pemerintah sebagai Karu. Saya memang berniat berhaji secara sungguh-sungguh sesuai bimbingan dari KBIH dan kalau memungkinkan akan membantu jamaah lain sesuai kemampuan.
Ini surprise ke-2. Surprise pertama saat hari terakhir di KBIH, dimana kami para Karom dan Karu juga dipanggil khusus. Di sana juga dibriefing. Dan terakhir sebelum pulang, kami dapat uang saku. Sebagai Karu dapat sekitar Rp 250.000-an dan Karom dapat sekitar 500.000-an.
Tentu ini kami syukuri, karena uang saku kami memang tak banyak. Itulah kenapa saya cari paketan internet paling murah. Akhirnya uang gaji itu kami belikan 2 paket internet, untuk saya dan istri.
Alhamdulillah, plong. Akhirnya dapat juga paketan internet nanti saat berhaji.



Posting Komentar