Tidak hanya di Batulicin, waktu bergerak pelan seperti cerita seorang teman yang suka bersepeda. Waktu juga berjalan lambat di Griya Pesona Asri, rumahku. Setidaknya 2 bulan terakhir. Sejak tak ada lagi perawat yang jadi teman cerita.
Oleh: Bismo Ariobowo*
Dari pagi hingga senja. Saya kembali sendiri di rumah. Waktunya terasa merambat..
Sebenarnya sebagai penyintas, saya belum benar-benar pulih seperti sedia kala. Buktinya, saya masih kontrol ke dokter saraf. Buktinya, tubuhku masih belum imbang. Buktinya, istri melarang naik sepeda atau sepeda motor. Alih-alih mobil.
Meski sesekali saya melanggarnya diam-diam. Hehehe. Dhuhur dan Ashar saya naik sepeda. Maghrib dan Isya saya naik sepeda motor dibonceng anak. Dan Subuh naik seeda motor sendiri ke masjid.
Ya. Berangkat ke masjid jadi terapiku terbaru agar bergerak setiap hari. Lumayan 600 meter pulang pergi dari rumah.
Selain itu juga jalan kaki 30-60 menit setiap pagi. Keliling kompleks. Lalu latihan beban (dumble). Pokoknya harus gerak, gerak dan gerak.
Di masjid kutemukan ketenangan. Masjid menjadi magnet agar saya terus bergerak. Masjid adalah pusat terapiku saat ini. Supaya tubuh tak kaku. Supaya saling sapa, lidah tak lagi kelu. Sebagai pensiunan, tak ada dalih kepada Allah tak 5 waktu ke masjid.
Setelah penyintas, hidup terus berlalu. Apakah cukup dengan uang pensiun?
"Yang penting bapak sehat. Rajin salat ke mesjid, rajin mengaji Qur'an dan rajin olahraga. Ojok makan sing aneh-aneh. Ojok polah sing aneh-aneh. Biar saya juga tenang bekerja." Begitu kata istri saat saya bilang ingin jualan kue setelah sehat.
Saya bersyukur dapat istri yang baik dan sabar. Selama saya sakit ia paling banyak berkorban.
Korban waktu kerja terganggu. Korban perasaan karena bawaanku marah-marah. Dan tentu korban finansial yang tak sedikit. Biaya pengobatanku non BPJS. Semua istri yang menanggung.
"Tak usah banyak pikiran, Pak. Semua ada yang ngatur. Semeleh mawon. Ikhlas aja." Begitu nasihat yang kerap kuterima dari saudara, teman, tetangga bahkan satpam kompleks.
Waktu kini terasa bergerak lambat di Griya Pesona Asri. Mungkin agar saya bisa lebih berkhidmat. Menikmati saat-saat sholat berjamaah. Menikmati ayat-ayat Al-Quran. Menikmati saat-saat bersama istri dan anak-anak.
Sampai tiba saat husnul khotimah menghadap-Nya. Aamiiin. [GPA Selasa, 13/1/2026]
[Selesai]
~~~
*Bismo Ariobowo adalah pensiunan PT Pos Indonesia (Persero). Pernah menjabat sebagai Manager Humas di Kantor Pusat, Bandung. Bekerja di PT Pos Indonesia sejak lulus kuliah dari Komunikasi, UNAIR. Sempat berdinas di beberapa daerah di Indonesia.



Posting Komentar