Ada satu pemeriksaan yang masih terdengar asing dalam proses pengobatan stroke ini yaitu DSA (Digital Substraction Angioghraphy). Pengobatan ini atas saran dari adik ipar yang juga pernah terserang stroke dan dilakukan DSA di RS PHC. Pemeriksaan ini ditemukan oleh dr. Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan.
Oleh: Bismo Ariobowo*
Untuk bisa dilakukan pemeriksaan pasien harus fit. Selain itu harus antri 2 minggu karena pasien cukup banyak. Sambil menunggu jadwal DSA, aku menjalani fisioterapi untuk memulihkan kekuatan dan keseimbangan di rumah. Fisioterapi dilakukan oleh perawat khusus dari rumah sakit.
Terapi kekuatan diperlukan karena tubuhku melemah kurang gerak hampir 3 minggu di atas ranjang. Otot-otot tubuh menjadi kaku lembek.
"Ben gak kuyur-kuyur kulitnya," begitu istriku menyebutnya. Terapi kekuatan ini memaksa aku harus lebih banyak berjalan, senam dan pemijatan. Sedangkan terapi keseimbangan dengan melakukan latihan dan tugas olah raga guna menjaga keseimbangan.
Terapi kekuatan relatif cepat penyembuhannnya. Ditandai dari otot-otot yang kembali terlihat (gempal).😊 Yang sampai hari ini belum sepenuhnya pulih adalah keseimbanganku. Bagiku berdiri di atas satu kaki kiri begini tidak mudah. Bisa goyang dan jatuh.
Sebelum pemeriksaan DSA perlu diagnosis gambar organ otakku terlebih dahulu melalui MRI. Berikut penjelasan MRI.
DSA berlangsung kurang lebih satu jam. Kateter yang dimasukkan lewat pembuluh vena di paha masuk ke pembuluh hingga ke jaringan batang otak.
Melalui kateter itu disemprotkan cairan untuk menghancurkan sumbatan-sumbatan di pembuluh. Semua dapat kusaksikan live melalui layar monitor yang terdapat mengeliligi pasien. Wuih.. pergerakan kateter bekerja bisa terpantau langsung. Ngeri-ngeri geli menyaksikan itu semua.😀
Kateter DSA menembus pembuluh darah di otak.
DSA ini bisa jadi puncak pengobatan Stroke Disfagia (saraf menelan). Sejak DSA progresnya cukup pesat. Jaringan saraf yang tersumbat mulai berjalan lancar. Hanya tersisa pembuluh-pembuluh yang berukuran terlalu kecil yang akan dipulihkan dengan minum obat.
Jumlah yang harus diminum ada 14 jenis obat! Alhamdulillah November sampai hari ini tinggal 4 jenis obat yang harus diminum tiap hari dan kontrol dokter sebulan 1x.
[Bersambung]
~~~
*Bismo Ariobowo adalah pensiunan PT Pos Indonesia (Persero). Pernah menjabat sebagai Manager Humas di Kantor Pusat, Bandung. Bekerja di PT Pos Indonesia sejak lulus kuliah dari Komunikasi, UNAIR. Sempat berdinas di beberapa daerah di Indonesia.



Posting Komentar