Kemarin 1 dolar sudah tembus Rp 18.000. Ini adalah rekor tertinggi sejak Indonesia merdeka. Masih lebih tinggi daripada saat Indonesia mengalami krisis moneter sekitar 1998. Yakni Rp 16.800.
Saat krisis moneter itu terjadi krisis, harga-harga naik. Sudah naik, barangnya tak ada. Sehingga menimbulkan krisis politik. Pemerintahan saat itu sampai tumbang.
Saat ini pun juga demikian. Harga-harga terkerek naik. Banyak PHK, sehingga pengangguran naik. Di lain pihak justru daya beli masyarakat turun. Yang punya pun berhemat. Sehingga rasanya mencari uang itu sulit.
Maka timbul khawatir, bagaimana besok keluarga bisa makan? Bagaimana biaya daftar ulang anak-anak? Kalau sakit, bagaimana biayanya? Dan kekhawatiran lain.
Allah sudah memberi resepnya menghadapi situasi yang tak pasti ini. Tentu tetap berikhtiar. Karena rezeki bukan karena dolar atau pekerjaan. Rezeki itu karena dari Allah.
Bagaimana resepnya? Apa yang harus dilakukan saat situasi seperti ini?
Yuuuk kita simak uraian yang dikupas dari kitab 'Nashaihul Ibad' oleh Ustadz Dr KH ILHAMULLAH SUMARKAN FANIDDIN, dosen UINSA Surabaya sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa An Nur Surabaya. Beliau juga host program di radio TV dan ketua LDNU PW Jatim. Meski tema kajiannya berat, dipaparkan secara segar dan mudah dipahami.
Kitab 'NASHAIHUL IBAD' salah satu kitab kuning yang menjadi rujukan populer di kalangan umat Islam khususnya bagi santri di pesantren. Syekh Imam Nawawi al-Bantani, imam besar Masjidil Haram dari Indonesia, menulis kitab ini sebagai nasihat dan panduan praktis untuk kehidupan spiritual, moralitas, dan etika umat Islam. Kali ini seri ke-12.



Posting Komentar