Oleh: Bismo Ariobowo*
Hal ini wajar dan bisa terjadi karena reaksi karena kehilangan kemandirian, gangguan komunikasi, serta kerusakan langsung pada otak. Jadi penderita stroke butuh dukungan, kesabaran, dan seringkali bantuan profesional.
Pertama, kehilangan kemandirian. Saya yang sebelumnya mengerjakan apa pun sendiri tiba-tiba tak bisa melakukan apa pun. Ya, selain tergolek di atas ranjang.
Mulai dari makan. Saya tak boleh memilih makanan. Makan pun mesti dihaluskan untuk bisa dimasukkan via selang NGT. Makanan jadi tak bisa dirasakan. Tahu-tahu sudah kenyang di lambung.
Kencing juga begitu. Tahu-tahu kantong urine penuh tanpa saya merasa kencing.
Berjalan sebentar sudah capek. Jadi harus pakai kursi roda, alat bantu jalan (walker) berkaki 4, sampai bawa/pakai kursi untuk ke masjid.
Yang paling menjengkelkan adalah keluarnya lendir/dahak hampir sepanjang waktu siang mapun malam.
Ada alat bernama 'nebul' yang selalu keluar asap guna merangsang keluarnya lendir. Jika sudah keluar dan terbatuk-batuk dihisap atau disedot pakai alat yang namanya 'suction kateter'. Kalau tak segera disedot akan mengganggu pernapasan.
Alat ini terpaksa harus beli baru selama perawatan di rumah. Selang penyedot dimasukkan lewat lubang ( stoma) yang dibuat di pangkal tenggorokan (tracheostomy).
Kedua, gangguan komunikasi. Dampak adanya lobang di pangkal leher, saya tak bisa mengeluarkan suara. Komunikasi hanya bisa melalui tulisan pada sebuah buku.
Yang buat sering marah karena bolpen suka tidak lancar keluar tintanya. Kalau sudah begitu saya buang bolpennya! Saya sampai harus minta bolpen diganti spidol saja biar lancar.
Apa benar lancar dengan spidol? Ternyata gak juga.
Tulisan tanganku yang tiba-tiba memburuk juga salah baca/tafsir dari tulisan tangan oleh istri/anak. Bahkan pembezuk kerap tambah membuat kesal.
Belakang setelah agak pulih, saya buka-buka lagi buku berisi kumpulan tulisan tanganku itu. Benar: saya juga susah baca tulisan tanganku sendiri!
[Bersambung]
~~~
*Bismo Ariobowo adalah pensiunan PT Pos Indonesia (Persero). Pernah menjabat sebagai Manager Humas di Kantor Pusat, Bandung. Bekerja di PT Pos Indonesia sejak lulus kuliah dari Komunikasi, UNAIR. Sempat berdinas di beberapa daerah di Indonesia.



Posting Komentar