Catatan Penyintas Stroke (8): Kapan Pulang?


Dalam buku yang berisi tulisanku itu - sebut saja buku biru karena bersampul biru - ada 2 kata yang sering saya tulis ulang tiap hari di ruang rawat inap. Istriku sampai bosan. "KAPAN PULANG?" Maklum sekitar 2 minggu saya sudah tergolek di RS PHC.

Oleh: Bismo Ariobowo*

Istri dengan sabar menyampaikan.

"Ya.. ditunggu ini sedang diurus mbak Eprilia dan dr. Enny. Untuk bisa dirawat di rumah banyak syarat yang harus dipenuhi."

Benar. Untuk dapat izin rawat di rumah (home care) sejumlah peralatan medis harus tersedia antara lain: tabung oksigen, suction kateter, selang cadangan, tensimeter, masker, alcohol swab, dan semua peralatan medis lain yang sewaktu-waktu dibutuhkan. 

Seolah kamar rawat inap pindah ke rumah.😊

Satu lagi: perawat homecare dipilih oleh koordinator perawat RS PHC mbak Eprilia. Mereka perawat profesional ICU dari berbagai RS di Surabaya. Bekerja selama 24 jam alias 3 shift per hari. Intinya standar perawatan di rumah harus setara dengan di RS.

Perawatan di rumah juga mensyaratkan ada kamar khusus untuk pasien, perawat, peralatan medis, dan ber-AC dalam satu kamar. Anakku terpaksa mengungsi karena kamarnya dijadikan kamar homecare. Pagi dan sore shift perawat wanita, dan malam perawat pria.

Berdasarkan pengaIaman adik, istri juga sudah mempersiapkan perawatan lanjutan yaitu DSA yang ditemukan dr. Terawan Agus Putranto. Dokter Terawan pernah menjadi Menteri Kesehatan beberapa waktu lalu. Tapi untuk bisa DSA saya harus antri selama menunggu 2 minggu agar kondisi lebih sehat.

Menurut AI, DSA (Digital Subtraction Angiography) adalah prosedur medis pencitraan X-ray canggih untuk melihat detail pembuluh darah (otak, jantung, dll.) secara real-time. Caranya dengan menyuntikkan zat kontras melalui kateter kecil. 

Tujuannya mendeteksi penyumbatan, penyempitan, atau kelainan vaskular seperti aneurisma, stroke, dan tumor. Dengan syarat - sering dianggap standar berat untuk evaluasi vaskular otak - dan merupakan metode invasif minimal yang dilakukan di laboratorium untuk diagnosis gangguan aliran darah.

Tidak semua rumah sakit besar ada layanan ini.

Ket. foto: 
bersama koordinator home care mbak Eprilia (yang tak pakai masker).


[Bersambung]
~~~
*Bismo Ariobowo adalah pensiunan PT Pos Indonesia (Persero). Pernah menjabat sebagai Manager Humas di Kantor Pusat, Bandung. Bekerja di PT Pos Indonesia sejak lulus kuliah dari Komunikasi, UNAIR. Sempat berdinas di beberapa daerah di Indonesia.

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir dan berkomentar.
Statsounter
View My Stats
Total Hits