Di awal pernikahan seorang suami memergoki istrinya masih berhubungan dengan kekasihnya. Istrinya berdalih ingin 'pamitan' harus memutuskan hubungan mereka karena sudah dijodohkan. Dan minta maaf. Suaminya memaafkan.
Namun ternyata diam-diam sang suami mengingat peristiwa perselingkuhan ini. Dan setelah itu suami memendam rasa dendam pada istrinya, meski tak pernah mengungkapnya.
Bertahun-tahun kemudian sang suami mendapat luka. Namun tak sembuh-sembuh. Bahkan menjalar ke seluruh tubuh. Tubuhnya penuh lubang, bernanah dan berbau. Meski sudah berikhtiar berobat kemana-mana tapi tak kunjung sembuh. Bahkan sekarang dia mengalami kelumpuhan.
Sang suami jadi tergantung pada istri. Disuapi makan, dimandikan, buang air kecil dan besar. Padahal orang lain melihat jijik pada luka-lukanya. Tapi istri merawatnya tak merasa jijik bahkan santai saja tak menggunakan sarung tangan.
Sampai suatu ketika, sang suami bertanya kenapa dia mau melakukan hal ini? Sang istri menjawab, "Ya aku kan istrimu. Kita sudah berjanji suka maupun duka akan bersama."
Sang suami tertegun. Sadar bahwa istrinya benar-benar mencintainya. Sudah benar-benar meninggalkan pacarnya dulu. Selama ini dia merasa mereka masih berhubungan. Dia bertobat, menceritakan hal ini pada isrinya dan minta maaf secara tulus.
Ajaib! Perlahan-lahan suami sembuh.
Ini peristiwa nyata dan terjadi sekarang ini. Diceritakan oleh seorang dokter pada seorang Usadz.
Itulah bahayanya menyimpan emosi negatif dalam tubuh. Maka kita harus bisa mengendalikan emosi. Termasuk dengan berbagai macam sumber pemicu emosi. Salah satunya orang lain. Termasuk orang dekat kita. Orang tua, pasangan, anak, tetangga dll.
Mari kita simak kajian ilmu kehidupan yang perlu dikuasai. Sebuah ilmu modern, Psikologi, namun ditinjau dari sudut Islam. Harusnya malah ilmu seperti ini diajarkan di sekolah. Ilmu yang berguna sepanjang hidupnya.
Sebuah kajian yang jarang ada. Sebuah kajian dari seri Psikologi Islam yang dikupas oleh Ustadz AHMAD HISYAM HIDAYAT, SE.I, seorang motivator, trainer pelatihan dan konsultan lembaga Psikologi Islam. Kajiannya lebih mudah dipahami dan menarik karena dibantu dengan multimedia.
Kali ini dalam seri "PSIKOLOGI ISLAM" Part #31.



Posting Komentar